Jumat, 09 November 2012

Sebuah Harapan

Oleh :Kristina Andita P
Untuk :kamu yg membaca ini

Terdiam aku dalam sunyi
Keramaian di sekitarku hanyalah semu
Semua tawa ini
Semua senyummu
Semuanya  tak ada yang nyata
Terjebak dalam hidup
Tak berdaya melawan dunia
Akankah semua ini berakhir?
Tidakkah ada yang mendengar suaraku?
Hilangkah jejak-jejak berharga seorang manusia?

Aku tahu aku telah gagal
Telah hilang ditelan waktu
Pedati harapan telah meninggalkanku
Aku tahu tetapi aku tidak mengerti
Terbenam dalam senyum dan tangis palsu
Satu hal yang ingin kumengerti
Adalah betapa berharganya hidup seseorang

Renungkan ini dan pahamilah
Hidup memang susah dimengerti
Hidup memang penuh sandiwara
Tetapi ketahuilah
Bahwa siapapun kamu
Kamu adalah berharga
Kamu tidak sendirian
Meski aku belum melihatmu
Tapi percayalah bahwa tidak hanya aku saja yang mengerti kamu
Tuhan juga peduli

Menunggu

Menunggu dan menunggu
Menunggu seseorang yg tak kunjung tiba
Menghancurkan hatiku
Menghapus semua asa

Menunggu dan menunggu
Menunggu kebencian hilang dari hatinya
Menuai asa yang telah semu
Meremukkan seluruh jiwa dan raga

Akankah hal ini menjadi baru?
Menyisakan jejak lama
Menjawab semua rindu
Menghapus sisa air mata

Ya Tuhan dengarlah daku
Ampuni segala dosa
Jawablah ya Tuhan segala air mataku
Berilah daku asa

Menunggu dan menunggu
Semua jawaban yang ada
Meski hati terkikis waktu
Tetapi tetap kupercaya...

Oleh : Kristina A.P

Rabu, 07 November 2012

Semut Peluru

Pernah digigit semut? Biasany semut2 yg menggigit kamu adalah semut merah kecil dan hasilnya.. Taraa.. Kulit menunjukkan tonjolan yg gatal tetapi perih saat digaruk.
Dari namanya 'Bullet Ant' pasti kepikiran ttg semut yg gigitannya lebih menyakitkan dari semut merah kecil tersebut. Yupzz.. Benar sekali! Dinamakan demikian (Bullet Ant) karena gigitannya serasa ditembak peluru, kita bisa mengenalnya dengan julukan semut peluru atau semut pasukan dan sebutan2 lain yg berbeda-beda tiap daerah, kebanyakan semut ini ada di afrika dan di hutan hujan, gigitannya mampu menembus kulit dan terasa panas hingga mampu merobek kulit.
Setiap Bullet Ant hanya memiliki kesempatan untuk sekali menggigit, kenapa? Karena setelah menggigit, biasanya manusia akan berusaha melepaskannya, tetapi kepalanya akan tetap menempel di kulit karena kuatnya gigitan.
Di daerah2 pedalaman, semut peluru digunakan untuk menjahit luka, karena minimnya peralatan medis. Tetapi sejauh ini, tidak ada penelitian yg mengatakan bahwa menjahit luka dengan semut ini berbahaya atau menimbulkan infeksi, infeksi akan timbul apabila luka tidak dijaga kebersihannya.
Wah Tuhan memang benar2 hebat dalam menciptakan hewan! Selalu ada manfaatnya!
:)

By : Kristina Andita P

Jumat, 02 November 2012

Pilihan Dalam Air Mata

Nggak ada angin, nggak ada hujan, Bella menamparku di pagi hari Sabtu yang cerah dengan matahari yang tampak malu2 di balik awan.
“Bel, apa-apaan ini?” Tanyaku heran “Ingat nggak janji kita semalam?” Bella balik bertanya, astaga! Aku lupa meneleponnya! Pasti Bella sudah menungguku sejak lama! ”Ingat dong janjimu!” Kata Bella dan kemudian ia pergi dari hadapanku.
Aku segera mengejarnya dan berusaha meminta maaf, berbuat baik padanya juga sudah kulakukan, tetapi tetap saja senyum ketusnya yang nampak dan dia terus saja diam, membuatku frustasi! Akhirnya kutinggalkan dia agar dia mendapat waktu untuk berfikir jernih.
Siang hari yang panas mulai datang dan kucoba untuk mengamati Bella, hmm... tampaknya ia masih marah padaku, uuh, konyol banget sih masalahnya? Padahal di hari Sabtu ini aku biasanya jalan-jalan dengan Bella, tapi... karena masalah konyol ini aku hanya bisa mengikuti Bella memasuki gedung olahraga tempat biasanya kami berdua berlatih bulu tangkis, di hari Sabtu ini memang sepi karena liburan panjang yang telah tiba.
Mendadak tanah yang kupijak mulai bergetar, awalnya pelan dan aku pun panik, tetapi aku tidak ingin meninggalkan Bella, akhirnya gempa mulai kuat hingga tanah mulai retak, tetapi mendadak berhenti ”Bella! Bella!” Teriakku berlari ke arah Bella ”Ayo keluar!” Kataku ”Ok, Ven” Jawab Bella yang tampaknya masih saja marah padaku di saat seperti ini, tetapi wajah takut jelas tergambar di wajahnya sat bumi kembali bergetar dan langkahnya yang perlahan itu terhenti, aku malah segera menariknya untuk berlari keluar melalui retakan-retakan yang makin lebar, tetapi gedung olahraga itu sangat tidak mendukung, pintu utama pun terhalang oleh atap yang roboh dan dalam hitungan detik, atappun roboh menimpa kami dan hanya meninggalkan rongga kecil untuk kami.
“Bel, kamu nggak apa-apa kan?” Tanyaku sambil meringkuk di celah itu bersama Bella “Iya Ven, tapi sempit nih” Jawab Bella “Eh, Bel lihat itu!” Kataku sambil berusaha menunjuk ke arah lubang kecil yang menjadi satu-satunya cahaya kami ”Kita bisa keluar lewat sana!” Teriak Bella dengan girang, tetapi mendadak wajahnya kembali cemberut “Tapi Ven, hanya ada satu orang yang bisa keluar” Kata Bella, aku terkejut dengan jawaban Bella, segera kuamati celah kecil itu dan ketika seorang dari kita keluar, jelas-jelasakan menyenggol sebatang besi yang akan menimbulkan reaksi beruntun yang akan menutup lubang tersebut atau parahnya, merobohkan bangunan hingga rata dengan tanah “Aduh Bel, aku nggak mau keluar tanpa kamu” Kataku “Sudahlah Ven, kaluar saja!” Kata Bella dengan suara tergetar, aku tahu ia takut, tetapi mengapa ia berkata demikian? Bukankah dia masih marah padaku?
“Dengar Ven, kamu terjebak di sini kan karena aku, kamu yang harus keluar” kata Bella, dan air mataku pun mengalir saat mendengar sahabatku berkata demikian, padahal beberapa menit lalu kita masih marahan karena hal yang  konyol “Bel, kamu bilang apa sih? Kita tunggu saja sebentar, pasti akan ada bantuan!” Kataku sedikit membentak untuk meyakinkan Bella, dan kurasa Bella hanya diam menanggapi sikapku.
Beberapa menit yang panjang telah berlalu dan telah terganti oleh jam-jam menegangkan dalam hidup kami, entah berapa lama kami berada di sana, tetapi dari jam tanganku, kami telah terjebak tanpa bisa bergerak bebas selama hampir 3 jam dan tiada sinyal di handphone kami, suasana di atas yang awalnya ramai menjadi kian sunyi, dan meski kami terus berteriak-teriak tiap ada harapan, tampak tidak membuahkan apa-apa.
“Ven, udah tiga jam nih, kamu keluar sana” Kata Bella, sejujurnya aku mau bertahan labih lama lagi asal Bella selamat, atau lebih baik jika Bella yang keluar, tetapi Bella terus saja memojokkanku, hingga akhirnya aku mengambil langkah pendakian pertama menuju celah itu.
Dengan amat sangat hati-hati aku mulai merangkak naik hingga mencapai lubang itu, aku berhenti sejenak, kamudian mulai keluar dari lubang dan langsung terjatuh ke luar sementara kausku sobek terkena besi penentu yang tak mungkin kuhindari.
Lega dapat menghirup udara segar, tetapi mataku mulai buram, dan terdengar suara kertakan di belakangku, segera saja aku berusaha berdiri meski kakiku terasa amat lemas dan tidak kuperhatikan darah yang mengalir dari tubuhku, aku hanya terfokus pada bangunan yang jatuh menimpa Bella sahabat baikku.
Meski tenagaku terkuras dan darah terus mangalir, aku tetap berusaha mencari Bella dalam reruntuhan itu, kukeluarkan semua tenaga dan pikiranku untuk membuka kayu demi kayu dan batu bata di depanku, aku berusaha berteriak memanggil Bella meski kerongkonganku terasa sakit, dan aku terus berharap pada Tuhan agar Bella tetap hidup saat kutemukan dia.
Pencarianku membuahkan hasil, dapat kulihat Bella tergeletak lemas, tetapi matanya masih memandangku dan senyum kecilnya masih mengarah padaku, aku segera mengulurkan tanganku untuk memegang tangannya sementara tangan kiriku masih terus membuka kayu yang menghalangi, hingga akhirnya ia dapat kutarik keluar.
“Bel, kamu nggak apa-apa?” Tanyaku panik “Nggak tau Ven” Bisiknya lirih, aku nggak tau apa yang harus kulakukan, dan akhirnya aku menggendong Bella menuju rumah sakit yang kuharpkan masih berdiri.
Dengan sisa tenaga terakhirku kubawa sahabatku dalam pangkuan tanganku yang bergemetaran karena lelah “Udah Ven, nggak usah” Bisik Bella pelan “Nggak Bel, aku masih sehat” Kataku sambil tersenyum menutupi fakta yang sebenarnya bahwa tenagaku hampir habis.
Mungkin baru separuh perjalanan, aku hampir pingsan, tetapi tidak kubiarkan Bella menderita, tetapi... kakiku tidak bisa diajak kompromi, aku terjatuh di atas dua lututku dan tetap berdoa agar Tuhan menolong kami.
Kurasa doaku telah Ia dengar, suara sirine ambulance mendatangi kami dan berhenti di samping kami. Yang kuingat saat itu adalah beberapa orang mengenakan baju putih turun dan segera menolong Bella, dan setelah itu... aku tidak tahu apa yang terjadi, sebab mataku telah gelap.
Ketika aku terbangun, yang kulihat adalah langit yang tampak biru seperti biasanya, ah, berarti aku masih di bumi. Segera saja aku duduk dan berusaha berdiri, namun ada seorang wanita cantik yang menyuruhku tetap tenang “Nggak mbak, aku nggak apa-apa” Kataku seraya berdiri dan melihat sekitarku, yang ada hanya kumpulan orang-orang korban gempa dan para relawan “Bella, Bella” Erangku pelan, entah kenapa suaraku tertahan di tenggorokkanku, aku segera berjalan mencari Bella di antara kerumunan orang, kurasa kakiku kali ini cukup dapat diajak kompromi dan suaraku mulai berkerjasama, sekuat tenaga aku memanggil nama Bella, meski kurasa itu tidak cukup keras.
Hingga akhirnya kutemukan Bella sedang duduk dan tampak bingung, kepala, tangan dan kakinya terperban, hampir mirip mumi, hahaha.
Aku segera manghampiri sahabatku dan memeluknya dengan hati-hati seolah tak ingin dia lepas dari pandanganku “Ven, makasih ya, kamu sudah menolongku” Kata Bella “Bukan Bel, ini pertolongan Tuhan” Jawabku dan takingin rasanya kehilangan satu-satunya sahabat terbaikku, yaitu Bella.

oleh : Kristina Andita Pradani

Freddy Mercuri


Identitas:

Nama                                      : Freddy Mercuri
Tempat/tanggal lahir      : Stone Town, 5 September 1946
Meninggal                      : 24 november 1991 London
Usia                               : 45 tahun
Ahli di bidang                : Vokalis
Tergabung dalam band  : Queen
Lagu hit                         : Bohemian Rapsody, Killer Queen, Bicycle,
 Somebody to love, Don’t Stop me Now, Crazy
Little Thing Called Love, Barcelona, We are
Champions
Bisa bermain alat musik          : Piano, Gitar
Tahun aktif                    : 1969-1991
Album yang terjual        : 300 miliar copy

Keunggulan:
-         Memiliki suara yang melengking tinggi dan indah
-         Menjadi ‘Britan’s First Asia Rock Star’
-         Menjadi salah satu orang yang mengubah music selama 60 tahun  berturut-turut
-         Greates singer on the history of popular music
-         Memegang juara tangga lagu terpopuler
-   Dan lain-lain